Memahami Hizb ut-Tahrir (حزب التحرير)
ٍOleh: Fahmi Amhar
Hizbut Tahrir (“Partai Pembebasan”) adalah sebuah fenomena politik Indonesia yang unik. Dari seratus lebih parpol yang mewarnai pentas nasional sejak reformasi 1998, Hizbut Tahrir (HT) adalah “partai” yang barangkali tertua. Didirikan 1953 di Jordania, HT dari awal menyebut dirinya partai politik, bukan sekedar gerakan dakwah. Sifatnya yang kosmopolit dan internasional, membuat HT berada di mana-mana. Di Indonesia HT eksis dengan legalitas sebagai organisasi massa dengan nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Untuk memahaminya, berikut sekilas yang unik dari HT.
Maria Ozawa dan Anak SD Kelas 5
Suatu ketika, adikku yang masih berumur 8 tahun mendapati sebuah headline dalam halaman Yahoo!-nya: “Ust. Yusuf Mansyur berniat Nasihati Maria Ozawa“, dengan potongan singkat artikel tertampil di bawahnya. Kebetulan aku sedang berada di sebelahnya saat itu, melihat dia beraktivitas menggunakan internet yang kebanyakan ia pakai untuk bermain online games di Facebook.
Selintas terpikir di benakku, ada apa gerangan ust. Yusuf Mansyur hendak menasihati Maria Ozawa? Aku pun pergi sementara adikku melanjutkan permainannya, entah itu Pet Society atau Restaurant City, aku tidak ingat pasti.
Mendudukkan Silaturahmi
Soal:
Sebagai istilah, kata silaturahmi sudah jamak digunakan. Akan tetapi, antara fakta dan maksud syar’i-nya berbeda. Lalu, bagaimana fakta dan maksud silaturahmi yang benar menurut syariah? Kapan dan bagaimana pula bentuk-bentuk silaturahmi yang diperintahkan?
Jawab:
Sebelum menjelaskan fakta silaturahmi, kita harus memahami fakta kerabat (aqârib) dalam pandangan Islam. Islam membedakan kerabat menjadi dua: Pertama, yang disebut dzawu al-irts (mereka yang berhak menjadi ahli waris). Kedua, yang disebut dzawu al-arham (mereka yang mempunyai hubungan mahram). Dalam Ilmu Faraidh, orang-orang yang masuk kategori dzawu al-irts ini juga disebut ashhâb al-furûdh (orang yang mendapat bagian waris) dan ‘ashabah (orang-orang yang mendapat bagian sisa). Dengan kata lain, dzawu al-‘irts adalah orang-orang yang mendapatkan bagian waris, sementara dzawu al-arhâm tidak.
Ajeb-Ajeb di Akhir Ramadhan
Hari ini hari Jumat, tanggal 11 bulan 9, tahun 2009. Seorang sahabat mengirimkan sebuah pesan singkat (SMS):
- 9/11/09: mendengar kabar pengesahan UU Ketenagalistrikan
- 9/11/08: mendengarkan pemateri seminar energi HATI ITB
- 9/11/01: mendengar kabar pesawat bisa meluluhkan gedung tertinggi
Ah, iya itu. Nostalgia masa lalu. Aku bergegas menuju kelas kuliah Mekanika di ruang 9137, kuliah terakhirku sebelum libur lebaran besok.
Bukan itu sebenarnya kisah yang ingin kusampaikan. Sekedar pemanis di awal, kalau orang mau dikata. Selesai kuliah aku pun menuju sekre favoritku, Sunken Court E-08.
Penunjuk waktu menunjukkan pukul 16. Pukul empat sore. Ada beberapa agendaku yang bentrok ternyata:
- Makrab asisten ComLabs
- Diskusi tim MWA seputar nominee calon rektor ITB
- Dauroh mini kawan2 Hizbut Tahrir kampus
Aku pilih yang mana? Yang terakhir, tentu. Aku tak ingin menomorduakannya, selama Allah mengizinkanku.
Dari utara aku berjalan menyusuri kampus hingga bagian tengah, Indonesia Tenggelam orang2 menyebutnya. Ramai sekali nampaknya, ada apa? Pikirku. Kuperhatikan sekelompok mahasiswa dan mahasiswi menjoged berlenggok di bawah alunan irama musik dan lagu. Aku mengernyit; sekedar mengernyit, berlalu lewat seakan tiada peduli, melewati kibaran gagah sebuah panji bertuliskan Home Tournament di atas Plaza Widya.
Sesekali aku melirik melihat kawanan itu. Mereka berganti. Kini tampil para gadis (mahasiswi tentunya) muda (2008 maksudnya), masih dengan topik yang sama: menari mengikuti irama. Bedanya dengan yang tadi, gadis-gadis muda ini semua mengenakan kerudung penghias mahkota tubuhnya. Elok nian (andaiku), namun miris tiada terkata.
Aku kembali seakan tiada peduli. Kuikuti acara dauroh mini bersama kawan-kawanku tadi, yang telah kuceritakan di dua-tiga paragraf sebelum ini.
Pendengaranku tiada tuli. Kami memang sudah berpindah tempat, menjauhi kawanan elok nian tadi. Telingaku tetap tersiaga, terdengar sayup-sayup jelas suara Aura Kasih dalam irama Mari Bercinta.
Yah, aku suka memang dengan lagu itu. Aransemen musiknya cukup membuat hati berdansa. Temanku satu asrama pasti tahu kelakuanku ketika mendengarnya. Sekedar musik dan lagu. Video-nya aku tak begitu suka, walau memang banyak pria menggandrunginya.
Ah, lupakan saja..
Tapi tidak hanya itu, ternyata. Pun terdengar jelas sayup2 lagu yang sama dari arah angin selatan, Campus Center orang biasa memanggilnya. Seingatku anak2 2009 yang kuajak ikut kajian dauroh mini sore ini banyak beralasan ikut makrab angkatan. Mungkin acara di sana itu yang mereka maksud: panggung ria lapangan Campus Center Barat.
Isinya? Ya itu, ajeb2 aku menyebutnya. Bernyanyi, berteriak, bersenang-senang, berjoget ria. Tidak semua mau joged, aku tahu. Tapi ya ruhnya ada di sana, membaur tak jelas siapa dari mana.
Sekedar kisahku menutup akhir perkuliahan di bulan suci ini, Ramadhan. Bersedih diri, kawan2-ku para mahasiswa-mahasiswi terbaik bangsa, menyambut kepergiannya dengan suka ria canda dan tawa. Mungkin tak tahu mereka kentara mana haram perkara, semua silahkan saja.
Aku malu. Bukan untuk mereka, tapi untuk diriku.
Sunken Court E-08, 22 Ramadhan 1430H
Kita Butuh Jalan Baru!
Tak lama lagi, rakyat Indonesia akan kembali berpesta dalam demokrasi. Setelah beberapa waktu lalu diminta memilih wakil rakyat, kini rakyat diminta lagi memilih presiden bersama pasangannya secara langsung. Pesta demokrasi belum berhenti.
Seolah tak mau ketinggalan dengan calon wakil rakyat, pasangan capres dan cawapres pun umbar janji. Belum lagi waktu kampanye tiba, mereka sudah ngacir terlebih dulu dengan berbagai kampanye terselubung. Semua bilang akan membuat perubahan. Mereka tak mau dikatakan sebagai antek asing.
Akankah janji mereka benar? Soalnya, dalam sejarah perjalanan demokrasi Indonesia, janji itu hanya sekedar janji, tidak ada bukti. Rakyat tetap terpuruk. Sistem yang diterapkannya pun tak pernah berubah, padahal semua orang tahu sistem yang ada ini telah rusak.
Akankah mereka kali ini berubah? Untuk membahasnya, wartawan Media Umat Mujiyanto mewawancarai Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia Hafidz Abdurrahman beberapa waktu lalu. Berikut petikannya.
Menyoal Perubahan
Ketika seseorang sadar akan adanya suatu hal yang buruk dari diri maupun lingkungan di sekitarnya, pasti terlintas di benaknya sebuah kata: perubahan. Semisal, seorang mahasiswa yang senantiasa mendapat indeks prestasi di bawah angka 2, ia pun akan berpikir bagaimana bisa mengubah itu –terlepas dari solusi/cara apa yang akan ia lakukan untuknya. Dalam konteks ini, perubahan diartikan sebagai suatu bentuk pengubahan kondisi menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dari sana, dapat ditemukan pertanyaan-pertanyaan berikutnya: apa-apa saja yang dikatakan sebagai sesuatu yang terkategori “buruk” sehingga ia harus mengubahnya, serta seperti apa perubahan yang akan dilakukan. Bisa saja, seseorang menganggap apa yang dilakukan kawannya adalah buruk, sedangkan si kawan tersebut tidaklah menganggap demikian – pada akhirnya tidak akan menjadikan perubahan sebagai suatu keharusan bagi dirinya. Dengan kata lain, perlu adanya apa yang menjadi patokan perubahan itu sendiri.
Read more…
Demokrasi dan Baju Baru Sang Raja
Alkisah hiduplah seorang Raja. Pada suatu hari, Raja itu ingin memiliki baju baru untuk dia pakai dalam pawai rutin di tengah kota yang biasa dia lakukan. Raja pun menyuruh ajudannya untuk memanggil penjahit yang paling hebat.
Singkat cerita datanglah seorang penipu yang mengaku penjahit hebat dan akan menjahitkan baju yang sangat luar biasa indah dan tiada duanya untuk sang Raja. Dia pun berlagak mengukur badan sang Raja, mengukur tingginya, lingkar perutnya, lebar bahunya, dan lain-lain. Setelah itu dia pun mohon diri dan menjanjukan baju itu akan siap esok lusa.
Recent Comments