Home > Personal > Teruntuk Sang Murobbi

Teruntuk Sang Murobbi

ar-rayaah

Aku mengenal dikau, tak cukup lama separuh usiaku
Namun begitu banyak pelajaran, yang aku terima

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih …

Padi, Harmony

Seneng deh kalau dengerin itu lagu. Liriknya mantap, melodinya bagus pula!

Sesuai dengan judul artikel ini, saya merasa lagu ini pas untuk “Sang Murobbi”. Hehe, iya betul, Sang Murobbi –atau istilah lainnya ya, ustadz, musyrif, guru, pembina.

Dalam menjalani hidup, seorang manusia tentu membutuhkan bimbingan agar ia berada dalam jalan yang “benar”. Jalan yang benar, tidak lain tidak bukan adalah jalan yang Allah ridha atasnya. Bimbingan ini tentu paling awal berasal dari yang menciptakan kehidupan itu sendiri, yaitu Allah swt.

Melalui para Rasul, Allah menyampaikan risalah bimbingannya (kitab-kitab suci, dan yang terakhir sekaligus menjadi revisi untuk semua kitab: Al Qur’an) kepada kita manusia. Setelah rasul terakhir wafat (Rasulullah Muhammad), keberjalanan pembimbingan pun dilanjutkan oleh para ulama’, orang-orang yang diberi kelebihan kedalaman ilmu agama.

Seorang manusia yang berakal dan sudah dewasa sudah kodratnya ia dapat mencari tahu dan kemudian menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Atas pencarian dan pengambilan keputusan inilah kelak ia akan dimintai pertanggungjawabannya di hari di mana tidak ada lagi penolong selain Allah semata. Untuk itu, kita sebagai manusia tentu harus senantiasa berupaya mempersiapkan diri menuju hari pertanggungjawaban itu.

Di sinilah di mana Sang Murobbi memainkan perannya. Ia dan kawan-kawan senasib dan seperjuangan selalu berusaha untuk mempersiapkan baik diri mereka masing-masing, ditambah binaan-binaan mereka yang tulus mencari ilmu kepadanya. Melalui para Murobbi ini, kita menjadi seorang manusia yang benar-benar manusia, yang diridhoi dan dirahmati oleh si Pencipta manusia.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda mempersiapkan diri Anda?

Terakhir, saya ingin mendendangkan lagi lagunya grup band Padi,

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih …

Categories: Personal
  1. December 3, 2008 at 7:00 am | #1

    …wah bim bim rupanya punya jiwa seni juga :P

    Iya, dong.. 8)

  2. December 4, 2008 at 6:25 am | #2

    Manteb Gan

    Semangat Terus, Tujuan dakwah pun pasti diraih

    Semangat buat musyrif dan daris

  3. December 15, 2008 at 1:09 pm | #3

    bim, ghani sekarang jd kepala gARis ya..
    kumpul2 lg yuk

    Eh, gARis tuh himpunan Arsi atau LDPS, ya?

  4. December 23, 2008 at 6:01 pm | #4

    Salam kenal

  5. December 30, 2008 at 8:16 am | #5

    gARis tu LDPSnya…
    punya alamat email dia nggak?

  6. January 14, 2009 at 4:10 pm | #6

    Titik mula perjalanan ini adalah saat-saat penciptaan manusia pertama, bapak seluruh manusia yaitu Nabi Adam as yang diciptakan Alloh swt dari tanah dengan tangan-Nya sendiri. Kemudian ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya. Para malaikat pun bersujud kepada Adam as sebagai bukti ketaatan mereka kepada Alloh swt dan penghormatan mereka kepada Adam as. Di waktu yang sama terjadilah suatu kedurhakaan yang besar sekali berupa pembangkangan Iblis terhadap Alloh swt dengan menolak untuk bersujud kepada Adam as seraya takabur atas dasar klaim bahwa bahan asal penciptaan dirinya, yaitu api lebih mulia dari bahan asal penciptaan Adam as, yaitu tanah. Murkalah Alloh swt dan terkutuklah Iblis.
    http://hanifabdillah.multiply.com/journal

  7. padhangilalang
    January 21, 2009 at 5:28 pm | #7

    hmm.. kalo gitu, seharusnya murobbi terbaik itu orangtua ya…

  8. January 27, 2009 at 7:34 am | #8

    …dan terwujud harmoni…

  1. No trackbacks yet.