Lagi, Duka Palestina

Ketika engkau terjamah, tangan-tangan serigala
ketika timah panas, menghempaskan jiwa
Kau coba membasuh luka, dengan asa tersisa
Hanya air mata, iringi do’a– Izzatul Islam, Duka Palestina
Gila! Hari itu aku sedang santai menikmati masa-masa libur akhir tahun. Biasa, tiap akhir tahun pasti dunia pendidikan “senang” karena selalu mendapatkan jatah liburan natal dan tahun baru.
Berita itu tidak begitu mengejutkan pada awalnya. Saya pun masih saja santai menikmati hidup yang seakan tanpa beban di masa liburan ini. Dua-tiga pesan SMS datang mengabarkan peristiwa pembantaian di Palestina sana. Ah, biasa. “Tiap hari juga ada pembantaian, kan,” pikirku.
Lalu apa bedanya pembantaian kali ini dengan yang dulu-dulu? Bukankah Israel memang selalu melakukan pembantaian tanpa belas kasihan terhadap penduduk Muslim negeri Palestina? Bukankah mereka memang tidak dapat akur dari dulu? Lantas mengapa berita pembantaian kali ini terasa begitu dibesar-besarkan?
Gawat, aku sudah tidak seperti dulu lagi. Bosan rasanya, memikirkan perjuangan yang tidak jelas awal dan akhirnya. Beberapa kurun waktu yang lalu, kabar yang sama banyak kudapati: pembantaian, penggempuran, penistaan, semua terjadi di negeri-negeri kaum Muslimin! Apa sikapku? Menangis? Bersedih? Berteriak lantang di depan, masa bodoh di belakang?
Tidak jelas memang, apa sikapku selama ini. Busuk, semua tunduk menyembah sang adidaya Amerika! Coba lihat para penguasa itu, adakah mereka peduli dengan nasib kaum Muslimin Palestina? Ada? Memberikan bantuan? Sembako? Relawan? Obat-obatan? Himbauan? Kecaman? Argumentasi di depan sidang dewan keamanan PBB?
Bah! Miris hati ini mendengarnya.Tidakkah kau lihat Israel masih tertawa berpesta di tengah keramaian kota Tel Aviv? Tidakkah kau dengar mereka bercanda riang di atas reruntuhan mayat Tepi Barat?
Di mana kalian, wahai kaum Muslimin? Bukankah Allah telah menegaskan kepadamu, bahwa engkau adalah umat terbaik dari seluruh umat manusia yang ada di muka bumi ini? Lantas mengapa engkau rela diinjak-injak dihinakan seperti ini? Agamamu dicerca, Rasul-mu dihina, darahmu ditumpahkan! Di mana kemulianmu?
Engkau sudi? Biarlah, kenikmatan hidup memang telah menyelimutimu, dan mungkin juga pada diriku. Aku mengerti, engkau juga punya masalahmu sendiri. Apalah itu, kuilah, keluarga, Playstation 3. Aku pun sama sepertimu.
Janji Allah t’lah pasti, terlaknat kaum Yahudi
kota suci para nabi, medan jihad abadi
Batu-batu intifadhoh, kan jadi saksi
3d Comments
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]