Menyoal Perubahan
Ketika seseorang sadar akan adanya suatu hal yang buruk dari diri maupun lingkungan di sekitarnya, pasti terlintas di benaknya sebuah kata: perubahan. Semisal, seorang mahasiswa yang senantiasa mendapat indeks prestasi di bawah angka 2, ia pun akan berpikir bagaimana bisa mengubah itu –terlepas dari solusi/cara apa yang akan ia lakukan untuknya. Dalam konteks ini, perubahan diartikan sebagai suatu bentuk pengubahan kondisi menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dari sana, dapat ditemukan pertanyaan-pertanyaan berikutnya: apa-apa saja yang dikatakan sebagai sesuatu yang terkategori “buruk” sehingga ia harus mengubahnya, serta seperti apa perubahan yang akan dilakukan. Bisa saja, seseorang menganggap apa yang dilakukan kawannya adalah buruk, sedangkan si kawan tersebut tidaklah menganggap demikian – pada akhirnya tidak akan menjadikan perubahan sebagai suatu keharusan bagi dirinya. Dengan kata lain, perlu adanya apa yang menjadi patokan perubahan itu sendiri.
Perubahan berbeda dengan perbaikan
Perbaikan bukanlah perubahan. Perbaikan hanyalah suatu usaha tambal sulam yang dilakukan guna memperbaiki sesuatu, yaitu menjadikannya kembali kepada kondisi ideal. Misal, bila suatu saat motor Anda rusak, Anda paling tidak bisa melakukan dua hal: memperbaikinya atau mengubahnya. Bagaimana bila motor Anda memang sudah cacat dari pabriknya? Tentu memperbaikinya tidak akan menyelesaikan masalah Anda. Anda harus menggantinya – mengubahnya – baik untuk komponen-komponen tertentu ataupun motornya sekalian bila memang motor tersebut cacat secara keseluruhan.
Pun demikian halnya si mahasiswa di atas, yang selalu mendapatkan IP di bawah angka 2 dalam keberalanan perkuliahannya. Ia bisa melakukan dua hal: memperbaiki ujian-ujiannya, atau mengubah cara belajarnya. Bila ia hanya melakukan perbaikan terhadap ujian-ujian yang telah ia jalani dan tidak berusaha untuk mengubah cara belajarnya, dapat dipastikan kelak ia pun akan mendapatkan hasil yang sama untuk ujian-ujian pada semester-semester selanjutnya. Maka, perubahan adalah memang suatu hal yang meniscayakan totalitas terhadap dirinya.
Islam menuntut perubahan mendasar dan menyeluruh
Dalam al-Quran Allah mengatakan, “Masuklah ke dalam Islam secara kaaffah,” yaitu tidak lain adalah secara mendasar dan menyeluruh. Ketika ada seorang kaafir hendak menjadi muslim, maka menjadi suatu keharusan baginya untuk meninggalkan segala perbuatan dan kebiasaan jahiliyah yang sebelumnya biasa ia lakukan, untuk selanjutnya menjadikan Islam sebagai satu-satunya patokan serta dasar dalam melakukan segala aktivitasnya. Adalah menyalahi syariat Islam itu sendiri bila kemudian ia tetap melakukan perbuatan jahiliyah tersebut, baik secara sengaja maupun tidak.
Begitu juga halnya ketika kita berbicara tentang perubahan sistem dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Bila kita telah menyadari akan kerusakan suatu masyarakat akibat kecacatan yang ada pada sistem yang diterapkan di tengah-tengahnya, maka diperlukan suatu perubahan yang menyeluruh terhadap sistem tersebut, yaitu meninggalkannya secara keseluruhan untuk kemudian menerapkan sistem yang baru sebagai penggantinya. Tentu saja, pada awal pembicaraan ini kita harus menyepakati bahwasannya memang persoalan mendasar adalah pada sistem yang diterapkan, bukan sekedar individu-individu yang memegang kepemimpinannya.
Demikianlah, maka yang selanjutnya penting untuk dipersoalkan adalah apa yang kemudian akan kita jadikan patokan bagi perubahan tersebut.[]
Recent Comments