Pacaran boleh gak, bang?
Bang Zuhair, gimana nih kabar? Katanya kemarin baru pulang umroh ya? He2.. ^^
Woh.. tau dari mana? He2. Iya, kabar baik alhamdulillah.
Gimana bang di sana suasananya?
Adem deh pokokna mah. Apalagi perempuan2-nya pada pakai kudung ‘n jilbab. Jadi nyaman banget di jalan2nya. Ga ada gangguan dan godaan2 macam di sini.
Iya ya bang. Di sini cewe2nya nyantai banget pake pakaian2 mini. Yang pendek, yang ketat, yang tipis, semua serba mini.
Iya. Aneh sebenarnya. Di satu sisi mereka senantiasa bermunajat pada Allah, sholat lima waktu, puasa Ramadhan, dan ibadah2 lainnya. Tapi kayaknya sekedar menjadikan perkara Islam pada ranah privat spiritual semata. Mereka selanjutnya tidak merasa terikat dengan aturan2 Islam dalam berbagai aspek kehidupan mereka yang lainnya.
Misal nih, saya ada beberapa temen di Facebook yang mengadukan pada Allah soal problematika percintaan mereka dengan kekasih2 mereka. Pacaran gitu. Mohon pada Allah agar pacarnya langgeng, dsb.
Oh iya bang, kebetulan nih abang nyinggung2 soal pacaran. Btw pendapat abang tentang pacaran kayak gimana bang?
Saya lebih melihat ‘pacaran’ bukan sebagai perbuatan, melainkan sebagai suatu status yang ‘mengikat’ antara dua orang, biasanya lawan jenis.
Maksudnya ‘status yang mengikat’?
Status ‘pacaran’ didapat ketika terjadi ‘serah-terima’ di antara dua orang tersebut. Yang satu menawarkan, yang satu menerima. Bila sepakat kemudian, mereka akan menganggap ada ikatan di antara mereka berdua, yaitu ikatan sebagai pacar. Dengan status/ikatan pacaran, seseorang menganggap ia berhak untuk lebih tahu, mengenal, menjaga, melindungi, dan menggauli pacarnya.
Owh gitu. Trus menurut abang nih, bagaimana pandangan Islam terkait pacaran?
Nah, di sini kita harus membedakan antara status/ikatan dengan perbuatannya.
Pacaran sebagai status/ikatan adalah seperti yang telah dipaparkan di atas. Sedangkan pacaran sebagai perbuatan sering diidentikkan dengan aktivitas2 mesra hingga mesum, semisal mojok (khalwat), jalan bareng, ngobrol yang ga penting dan ga perlu, sampai ada yang nginep bareng hingga berzina (berhubungan seks tanpa ikatan pernikahan).
Dalam aturan Islam, laki-laki dan perempuan dalam pergaulan sosial sejatinya terpisah. Tidaklah dibenarkan antar keduanya berinteraksi kecuali memang ada urusan2 yang dibenarkan Islam untuk mereka berinteraksi, semisal pendidikan, kesehatan, dan muamalah (jual beli, kerja, dsb). Juga terkait dengan siapa mahrom dan siapa bukan, ruang khusus (privat) dan ruang umum (publik), dll.
Membahas pacaran sebagai suatu status/ikatan, maka sesungguhnya ikatan/status tersebut adalah tidak ada dalam Islam. Status/ikatan yang menjadikan hubungan intim boleh dilakukan antara sepasang laki-perempuan adalah ikatan pernikahan semata. Sedangkan pacaran sebagai perbuatan, maka perbuatan2 tersebut adalah haram, terlepas dari apakah mereka dalam ikatan pacaran atau tidak. Yang menjadikan perbuatan2 tersebut halal adalah ikatan pernikahan, bukan pacaran.
Jadi, bagaimanapun, Islam tidaklah mengenal ‘pacaran’ dalam konteks yang telah dipaparkan di atas. Dan hanya itu saya kira yang tepat dalam pembahasan istilah ‘pacaran’.
Wallahu a’lam.
Wah, gitu ya bang. Ahaha, padahal pacaran tuh asik lho bang..
Ye.. iya lah. Emang asik. Namanya juga melampiaskan naluri. Naluri berkasih sayang. Emang sih naluri tuh butuh tuk dipuaskan, ditunaikan, dipenuhi. Tapi tentu pemenuhan/pemuasannya mesti ngikut sama aturan2 Allah. Ya syariat Islam. Dan jalannya itu ya nikah. Ho2.
He2, iya bang. Eh btw abang sendiri pernah ga bang pacaran?
Woh, nanya2 yang begituan. Ntar aja kita lanjutin lagi di asrama, cuy.
Wahaha, ok2 bang. Sip.
Ya udah kalo gitu, saya mau kuliah dulu ya.
Pertanyaan kedua dari akhir:
“Pernah pacaran ga bang?”