Bertemu (tim) Pencuri (motor)?
Semalam, sepulang mengisi lingkar kajian tentang partai politik dan gerakan Islam ideologis, saya masuk kamar kosan dan segera membuka laptop. Saya mengecek email, browsing untuk beberapa keperluan, dan menulis catatan harian saya. Waktu menunjukkan pukul 23:30.
Kamar saya terletak di paling luar rumah kosan, menghadap ke jalan kecil perumahan. Lampu saya nyalakan, pintu kamar saya buka, korden jendela tidak saya tutup. Saya dapat melihat keadaan di luar pagar kosan, pun begitu pula orang luar dapat melihat keadaan di dalam kamar saya.
Selang setengah jam saya di depan laptop, tiba-tiba datang dua orang mengendarai motor bebek plat B berboncengan berhenti di depan kosan. “Siapa, ya?” pikir saya sembari melirik mereka. Nampak si penumpang hendak turun –dan memang sudah mau turun– namun kemudian mereka seperti buru-buru untuk segera pergi. Dan benar, mereka pun pergi.
“Loh? Siapa ya itu? Kok mau turun tapi ga jadi? Malah balik arah buru2 pergi?” heran saya. Saya keluar kamar. Teman saya yang kamarnya juga dekat dengan pagar ternyata juga ada di luar kamar, hendak masuk.
“Man, tadi siapa ya?” ucap saya pada Arman, teman saya itu.
“Wah, ga tau, Bim. Tadi dia kelihatan dah mau turun gitu. Tapi pas ngelihat ada saya, tiba2 langsung naik lagi, terus pergi,” terang Arman.
Saya berjalan lebih mendekati pagar, melirik kondisi jalan depan. Ternyata kedua orang itu berhenti di depan rumah kosan tetangga. Si penumpang turun, mendekati pagar, sesaat kemudian ia balik lagi ke motor dan pergi.
“Wah, kayaknya itu tim surveillance komplotan maling, Man. Tadi mereka kayak ngecek pagar gitu. Kayaknya mereka ngecek mana2 aja rumah yang bisa di-maling,” ujar saya.
“Inget ga Bim, dulu pagar kosan kita pernah hilang juga gemboknya. Ya di jam2 segini ini, tengah malam. Eh, ga taunya dini harinya kosan kita kemalingan dua motor, Bim,” tutur Arman menceritakan kembali kisah kemalingan di kosan kami bulan lalu. Waktu itu diperkirakan maling beraksi sekitar pukul 3:00 dini hari.
“Ya ampun. Tadi kok kita ga mikir cepat ya, langsung cegat mereka. Kayaknya emang bener itu komplotan maling, Man,” saya menanggapi. “Yasud. Kita tidur aja sekarang. Biar ntar pagi (dini hari) bisa jaga2 kalau2 itu maling beraksi lagi.”
Arman pergi ke lantai atas, memberitahu tentang kejadian tadi ke teman-teman kosan yang masih terjaga bermain PS3. Saya masuk kamar, membereskan urusan laptop, dan kemudian tidur. Geram rasanya melihat komplotan maling di depan mata pergi begitu saja.
Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu kami hidup dan kami mati. Lindungilah keluarga dan harta benda kami di saat kami terlelap.
(Pesan: Waspadalah. Komplotan maling bergerak secara profesional. Mereka merencanakan aksi pencurian dengan matang. Gembok pun bukan halangan berarti bagi mereka. Jalinlah hubungan baik dengan tetangga. Upayakan pengamanan rumah dan lingkungan sekitar dengan maksimal, semisal ronda malam. Semoga Khilafah dapat segera tegak agar syariah Islam dapat diterapkan, dan para pencuri pun akan mendapatkan hukuman tegas yaitu potong tangan.)
