<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>cemerlang</title>
	<atom:link href="http://aryabima.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aryabima.wordpress.com</link>
	<description>... ثمّ تكون خلافة على منهاج النبوّة</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Oct 2009 04:09:49 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='aryabima.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/5470ad2ba031943058c3d9ad8fea7507?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>cemerlang</title>
		<link>http://aryabima.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Maria Ozawa dan Anak SD Kelas 5</title>
		<link>http://aryabima.wordpress.com/2009/10/13/maria-ozawa-dan-anak-sd-kelas-5/</link>
		<comments>http://aryabima.wordpress.com/2009/10/13/maria-ozawa-dan-anak-sd-kelas-5/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 04:09:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>زهير</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryabima.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika, adikku yang masih berumur 8 tahun mendapati sebuah headline dalam halaman Yahoo!-nya: "Ust. Yusuf Mansyur berniat Nasihati Maria Ozawa", dengan potongan singkat artikel tertampil di bawahnya. Kebetulan aku sedang berada di sebelahnya saat itu, melihat dia beraktivitas menggunakan internet yang kebanyakan ia pakai untuk bermain online games di Facebook.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=189&subd=aryabima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Suatu ketika, adikku yang masih berumur 8 tahun mendapati sebuah headline dalam halaman Yahoo!-nya: &#8220;<em>Ust. Yusuf Mansyur berniat Nasihati Maria Ozawa</em>&#8220;, dengan potongan singkat artikel tertampil di bawahnya. Kebetulan aku sedang berada di sebelahnya saat itu, melihat dia beraktivitas menggunakan internet yang kebanyakan ia pakai untuk bermain online games di Facebook.</p>
<p>Selintas terpikir di benakku, ada apa gerangan ust. Yusuf Mansyur hendak menasihati Maria Ozawa? Aku pun pergi sementara adikku melanjutkan permainannya, entah itu <em>Pet Society</em> atau <em>Restaurant City</em>, aku tidak ingat pasti.</p>
<p>Setelah menyelesaikan beberapa aktivitas, aku menyempatkan diri untuk online membaca-baca berita, opini, forum maya, <em>e-mail</em>, dan Facebook. Aku kembali mendapati beberapa artikel terkait dengan pemberitaan Maria Ozawa. Ternyata, yang aku pun juga baru tahu, Maria Ozawa berencana didatangkan untuk bermain film di Indonesia! &#8220;Oh, ternyata ini,&#8221; batinku seraya membaca keseluruhan berita beserta beberapa komentar tanggapannya.</p>
<p>Eh, kau tahu Maria Ozawa, kan? Belum tahu? Ah, masa? Coba aja search di Google nama tadi: &#8220;<em>Maria Ozawa</em>&#8220;. Dan tebak, persis itulah yang dilakukan adikku yang baru berumur 8 tahun tadi!</p>
<p>Adikku memang dapat dikatakan pintar dan cerdas dalam kesibukan akademisnya. Ia sering &#8212; kalau tidak dikatakan selalu &#8212; mendapatkan predikat <em>Rank #1</em> di kelas. Pun ketika menggunakan Internet, ia sudah mengerti satu-dua dasar utamanya: &#8220;<em>Anda ingin mencari tahu sesuatu di Internet? Tanyakan pada Google!</em>&#8220;</p>
<p>Begitulah, dan ia ternyata mencari tahu siapa Maria Ozawa! Dengan apa? Ya itu tadi, dengan bantuan mesin pencari yang paling banyak digunakan para pengguna Internet: Google.</p>
<p>Ceritaku tadi mungkin tidak menarik bagimu. Ya sudah, cukupkanlah sampai di sini. Tidak perlu dilanjutkan. Tidak ada yang spesial memang, hanya seorang anak yang terasah rasa keingintahuannya. Tidak apa-apa. Namun sebelum engkau menutup tulisanku ini, aku ingin meminta satu hal: coba kau tuliskan nama &#8220;Maria Ozawa&#8221; di Google, dan lihatlah apa yang ditampilkannya.</p>
<p>Lanjut? Engkau masih ingin melanjutkan membaca lanjutan kisahku ini? Baiklah. Coba, sebutkan apa-apa saja yang muncul di sana. <em>Biodata</em>? Bukan. <em>Profil</em>? Bukan. <em>Portofolio</em>? Ya! Urutan awal daftar situs yang ditampilkan di sana adalah portofolio dari seorang Maria Ozawa, yang tidak lain tidak bukan adalah jejak napak tilasnya dalam dunia profesi yang digelutinya!</p>
<p>Engkau membukanya? Ahaha, silahkan saja, itu akan menjadi derita dan resikomu menantang maut. Tapi itulah, adikku pun sempat membuka satu-dua darinya! Oh, tidak..</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryabima.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryabima.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryabima.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryabima.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryabima.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryabima.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryabima.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryabima.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryabima.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryabima.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=189&subd=aryabima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryabima.wordpress.com/2009/10/13/maria-ozawa-dan-anak-sd-kelas-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b3d9d51fd37a3ae03261084f6b0acf9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zuhair</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendudukkan Silaturahmi</title>
		<link>http://aryabima.wordpress.com/2009/09/23/mendudukkan-silaturahmi/</link>
		<comments>http://aryabima.wordpress.com/2009/09/23/mendudukkan-silaturahmi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 11:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>زهير</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryabima.wordpress.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Karena itu, silaturahmi konteksnya adalah menjaga hubungan baik dengan kerabat yang berstatus mahram (rahim mahram), seperti bibi dari ibu, dan bukan kerabat non-mahram (rahim ghayr mahram), seperti anak perempuan paman (saudara ayah). Konteks silaturahmi ini sebenarnya khusus untuk menjaga hubungan baik dengan rahim yang mahram, bukan rahim yang non-mahram. Karena itu, menjaga hubungan baik dengan anak perempuan paman (saudara ayah), dan anak perempuan paman (saudara ibu) hukumnya tidak wajib, karena mereka bukan mahram. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=186&subd=aryabima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Soal:</strong></p>
<p>Sebagai istilah, kata silaturahmi sudah jamak digunakan. Akan tetapi, antara fakta dan maksud syar’i-nya berbeda. Lalu, bagaimana fakta dan maksud silaturahmi yang benar menurut syariah? Kapan dan bagaimana pula bentuk-bentuk silaturahmi yang diperintahkan?</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Sebelum menjelaskan fakta silaturahmi, kita harus memahami fakta kerabat (<em>aqârib</em>) dalam pandangan Islam. Islam membedakan kerabat menjadi dua: <em>Pertama, </em>yang disebut <em>dzawu al-irts </em>(mereka yang berhak menjadi ahli waris). <em>Kedua</em>, yang disebut <em>dzawu al-arham </em>(mereka yang mempunyai hubungan <em>mahram</em>). Dalam Ilmu Faraidh, orang-orang yang masuk kategori <em>dzawu al-irts</em> ini juga disebut <em>ashhâb al-furûdh </em>(orang yang mendapat bagian waris) dan <em>‘ashabah </em>(orang-orang yang mendapat bagian sisa). Dengan kata lain, <em>dzawu al-‘irts </em>adalah orang-orang yang mendapatkan bagian waris, sementara <em>dzawu al-arhâm </em>tidak.</p>
<p>Siapa <em>dzawu al-arhâm </em>ini? Mereka adalah sepuluh orang: paman dan bibi (saudara ibu), kakek seibu, cucu laki-laki dari anak perempuan, keponakan laki-laki dari saudara perempuan, keponakan perempuan dari saudara laki, saudara sepupu perempuan dari paman (saudara ayah), bibi (saudara ayah), paman (saudara ayah) seibu dan keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seibu; termasuk keturunan dari mereka. Selain mereka, inilah yang disebut <em>dzawu al-irts</em> atau <em>ashhâb al-furûdh </em>dan <em>‘ashabah</em>. Inilah fakta kerabat dalam pandangan Islam.</p>
<p>Dari fakta ini, Islam membedakan antara menjaga hubungan baik dengan <em>dzawu al-arhâm </em>dan menjaga hubungan baik dengan <em>dzawul al-irts. </em>Menjaga hubungan baik dengan <em>dzawu al-arhâm </em>inilah yang disebut silaturahmi (<em>sillah ar-rahm</em>). Adapun menjaga hubungan baik dengan <em>dzawul al-irts</em> tidak disebut <em>sillah ar-rahm</em>, melainkan <em>sillah al-aqârib</em>. Pertanyaannya, mengapa harus dibedakan? Karena hukumnya berbeda. <em>Sillah ar-rahm </em>ini hukumnya wajib dan memutuskannya<em> </em>haram. Adapun <em>sillah al-aqârib </em>hukumnya sunah.</p>
<p>Ini didasarkan pada riwayat, bahwa pernah ada seorang pria bertanya kepada Nabi saw.:</p>
<p dir="rtl">مَنْ أَبُرُّ؟ فَقَالَ لَهُ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُمَّكَ وَأَبَاكَ وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ</p>
<p><em>“Siapakah yang harus saya perlakukan dengan baik?” Nabi saw. bersabda kepadanya, “Ibumu, bapakmu, saudara perempuan dan saudara lelakimu.” </em>(HR at-Tirmidzi dan al-Hakim. Hadis ini disahihkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak).</p>
<p>Ada juga riwayat dari Asma’ binti Abi Bakar yang menyatakan:</p>
<p dir="rtl">قَدَمَتْ عَلَيَّ أُمِّي، وَهِيَ مُشْرِكَةٌ – فِيْ عَهْدِ قُرَيْشٍ إِذْ عَاهَدَهُمْ – فَاسْتَفْتَيْتُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّ أُمِّي قَدَمَتْ عَلَيَّ – وَهِيَ رَاغِبَةٌ – أَفَأَصِلُهَا؟ قَالَ: نَعَمْ، صِلِيْ أُمَّكِ</p>
<p><em>Saya pernah didatangi oleh ibuku, sementara dia masih musyrik–pada zaman Quraisy, saat Nabi mengadakan perjanjian (Hudaibiyah) dengan mereka. Saya lalu bertanya kepada Nabi saw. “Ya Rasulullah, ibuku telah mendatangiku, sementara dia masih musyrik. Apakah saya boleh menjaga hubungan baik dengannya?” Nabi saw. menjawab, “Boleh. Jagalah hubungan baik dengan ibumu.”</em> (HR al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hadis-hadis ini menjadi dalil tentang <em>sillah al-‘aqâib </em>(menjaga hubungan kekerabatan). Hadis ini tidak disertai dengan ancaman (<em>wa’id</em>), juga indikasi yang menjelaskan wajibnya menjaga hubungan tersebut. Karena konteks hadis tersebut adalah ketaatan kepada orangtua (<em>birr</em>), yang merupakan perintah syariah, maka ia bisa menjadi indikasi (<em>qarînah</em>) yang menguatkan (<em>tarjîh</em>) sehingga hukumnya sunah (<em>mandub</em>).</p>
<p>Ini berbeda dengan <em>sillah ar-rahim</em> yang hukumnya memang wajib, karena Nabi saw. menyatakan:</p>
<p dir="rtl">مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ</p>
<p><em>Siapa saja yang ingin dilapangkan rezekinya dan dilanggengkan peninggalannya, hendaknya menyambung hubungan dengan kerabatnya </em>(HR al-Bukhari dan Muslim).<strong> </strong></p>
<p>Nabi saw. juga menyatakan: <em> </em></p>
<p dir="rtl">لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ</p>
<p><em>Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekerabatan </em>(HR Muslim dan Abu Dawud).<strong></strong></p>
<p>Nabi saw. pun bersabda:</p>
<p dir="rtl">إنَّ أَعْمَالَ أُمَّتِيْ تُعْرَضُ عَشِيَّةَ الْخَمِيْسِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ، فَلاَ يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ</p>
<p><em>Sesungguhnya amal umatku akan diajukan (kepada Allah) pada petang hari Kamis, malam Jumat. Namun, amal orang yang memutuskan hubungan kekerabatan tidak akan diterima (oleh Allah).</em><strong></strong></p>
<p>Hadis-hadis ini menjelaskan <em>sillah ar-rahm</em>, yang disertai pujian (<em>madh</em>) sekaligus ancaman (<em>wa’id</em>) sehingga menjadi indikasi (<em>qarinah</em>), bahwa tuntutan tersebut merupakan tuntutan yang tegas (<em>thalab jâzim</em>); artinya hukumnya wajib. Jadi, silaturahmi hukumnya wajib, dan memutuskannya haram. Apalagi ada nash yang juga menunjukkan larangan memutuskan silaturahmi dengan larangan yang tegas.</p>
<p>Karena itu, silaturahmi konteksnya adalah menjaga hubungan baik dengan kerabat yang berstatus mahram (<em>rahim mahram</em>), seperti bibi dari ibu, dan bukan kerabat non-<em>mahram</em> (<em>rahim ghayr mahram</em>), seperti anak perempuan paman (saudara ayah). Konteks silaturahmi ini sebenarnya khusus untuk menjaga hubungan baik dengan <em>rahim </em>yang <em>mahram</em>, bukan <em>rahim </em>yang non-<em>mahram</em>. Karena itu, menjaga hubungan baik dengan anak perempuan paman (saudara ayah), dan anak perempuan paman (saudara ibu) hukumnya tidak wajib, karena mereka bukan <em>mahram</em>.</p>
<p>Mengenai dalil yang menyatakan hal di atas ada dua: <em>Pertama</em>, bahwa orang yang bukan <em>mahram</em>, haram hukumnya ber-<em>khalwat</em> dengannya; haram melihat, selain wajah dan kedua telapak tangannya; juga haram melakukan <em>ikhtilâth</em> dengannya. Padahal ini bertentangan dengan aktivitas silaturahmi; yaitu mengunjungi, memberi hadiah, bergaul (<em>mukhâlathah</em>) dan duduk bersama. Adanya perbedaan fakta silaturahmi dengan hubungan dengan orang yang bukan <em>mahram</em>-nya membuktikan, bahwa silaturahmi khusus untuk konteks <em>rahim </em>yang <em>mahram</em>. <em>Kedua</em>, Nabi saw. melarang menikahi wanita dengan bibi (saudara ayah)-nya, atau wanita dengan bibi (saudara ibu)-nya. Nabi saw. juga menjelaskan, bahwa menikahi wanita dengan bibinya dianggap memutuskan hubungan kekerabatan. Ini membuktikan, bahwa <em>rahim </em>adalah siapa saja yang tidak boleh dinikahi.</p>
<p>Dengan demikian, istilah <em>silaturahmi</em> digunakan oleh syariah Islam untuk menyebut aktivitas menjaga hubungan baik dengan kerabat yang berstatus <em>mahram</em>, bukan yang lain. Hukum wajibnya silaturahmi dan haramnya memutuskannya juga hanya berlaku dalam konteks menjaga hubungan baik dengan mereka.</p>
<p>Adapun bentuk-bentuk aktivitas silaturahmi itu bisa bermacam-macam, antara lain kunjungan pada Hari Raya; momen-momen penting, seperti pernikahan, kelahiran, khitanan dan sebagainya. Memberi hadiah pada kedua Hari Raya dan momen-momen penting tadi juga merupakan bentuk menjaga silaturahmi; termasuk membela mereka dan anak-anak mereka serta memenuhi kebutuhan dan hak-hak mereka. Dalam konteks ini, Nabi saw. bersabda:</p>
<p dir="rtl">الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ، وَعَلىَ ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ</p>
<p><em>Sedekah kepada orang miskin itu bernilai satu, yaitu sedekah saja; sementara sedekah kepada kerabat itu ada dua: satu bernilai sedekah, kedua bernilai menjaga hubungan baik (sillah) </em>(HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan ad-Darimi).<strong></strong></p>
<p>Dengan kata lain, orang yang memberikan hadiah kepada kerabat yang berstatus <em>mahram</em> mendapatkan dua pahala: pahala sedekah <em>tathawwu’</em> (sunnah) dan kedua pahala silaturahmi.</p>
<p>Sebaliknya, orang yang memutuskan silaturahmi adalah orang yang tidak mementingkan kerabatnya, juga orang yang tidak mau diperhatikan kerabatnya, baik dengan kunjungan, hadiah maupun yang lain. Jadi, orang yang memutuskan silaturahmi adalah orang yang menistakan kerabat, sekecil apapun bentuk penistaan tersebut. Itulah bentuk pemutusan silaturahmi. Kepada mereka, Nabi saw. mengancam:</p>
<p dir="rtl">لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ</p>
<p><em>Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekerabatan </em>(HR Muslim dan Abu Dawud).<strong></strong></p>
<p><em>Wallâhu a‘lam. </em><strong>[]</strong></p>
<p><em>Sumber: <a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/10/03/bagaimana-mendudukkan-silaturahmi-secara-syar%E2%80%99i/">http://hizbut-tahrir.or.id</a></em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryabima.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryabima.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryabima.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryabima.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryabima.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryabima.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryabima.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryabima.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryabima.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryabima.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=186&subd=aryabima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryabima.wordpress.com/2009/09/23/mendudukkan-silaturahmi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b3d9d51fd37a3ae03261084f6b0acf9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zuhair</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ajeb-Ajeb di Akhir Ramadhan</title>
		<link>http://aryabima.wordpress.com/2009/09/11/ajeb-ajeb-di-akhir-ramadhan/</link>
		<comments>http://aryabima.wordpress.com/2009/09/11/ajeb-ajeb-di-akhir-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 14:37:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>زهير</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryabima.wordpress.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini hari Jumat, tanggal 11 bulan 9, tahun 2009. Seorang sahabat mengirimkan sebuah pesan singkat (SMS):

9/11/09: mendengar kabar pengesahan UU Ketenagalistrikan
9/11/08: mendengarkan pemateri seminar energi HATI ITB
9/11/01: mendengar kabar pesawat bisa meluluhkan gedung tertinggi

Ah, iya itu. Nostalgia masa lalu. Aku bergegas menuju kelas kuliah Mekanika di ruang 9137, kuliah terakhirku sebelum libur lebaran besok.
Bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=182&subd=aryabima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hari ini hari Jumat, tanggal 11 bulan 9, tahun 2009. Seorang sahabat mengirimkan sebuah pesan singkat (SMS):</p>
<ul>
<li>9/11/09: mendengar kabar pengesahan UU Ketenagalistrikan</li>
<li>9/11/08: mendengarkan pemateri seminar energi HATI ITB</li>
<li>9/11/01: mendengar kabar pesawat bisa meluluhkan gedung tertinggi</li>
</ul>
<p>Ah, iya itu. Nostalgia masa lalu. Aku bergegas menuju kelas kuliah Mekanika di ruang 9137, kuliah terakhirku sebelum libur lebaran besok.</p>
<p>Bukan itu sebenarnya kisah yang ingin kusampaikan. Sekedar pemanis di awal, kalau orang mau dikata. Selesai kuliah aku pun menuju sekre favoritku, Sunken Court E-08.</p>
<p>Penunjuk waktu menunjukkan pukul 16. Pukul empat sore. Ada beberapa agendaku yang bentrok ternyata:</p>
<ul>
<li>Makrab asisten ComLabs</li>
<li>Diskusi tim MWA seputar nominee calon rektor ITB</li>
<li>Dauroh mini kawan2 Hizbut Tahrir kampus</li>
</ul>
<p>Aku pilih yang mana? Yang terakhir, tentu. Aku tak ingin menomorduakannya, selama Allah mengizinkanku.</p>
<p>Dari utara aku berjalan menyusuri kampus hingga bagian tengah, Indonesia Tenggelam orang2 menyebutnya. Ramai sekali nampaknya, ada apa? Pikirku. Kuperhatikan sekelompok mahasiswa dan mahasiswi menjoged berlenggok di bawah alunan irama musik dan lagu. Aku mengernyit; sekedar mengernyit, berlalu lewat seakan tiada peduli, melewati kibaran gagah sebuah panji bertuliskan <em>Home Tournament</em> di atas Plaza Widya.</p>
<p>Sesekali aku melirik melihat kawanan itu. Mereka berganti. Kini tampil para gadis (mahasiswi tentunya) muda (2008 maksudnya), masih dengan topik yang sama: menari mengikuti irama. Bedanya dengan yang tadi, gadis-gadis muda ini semua mengenakan kerudung penghias mahkota tubuhnya. Elok nian (andaiku), namun miris tiada terkata.</p>
<p>Aku kembali seakan tiada peduli. Kuikuti acara dauroh mini bersama kawan-kawanku tadi, yang telah kuceritakan di dua-tiga paragraf sebelum ini.</p>
<p>Pendengaranku tiada tuli. Kami memang sudah berpindah tempat, menjauhi kawanan elok nian tadi. Telingaku tetap tersiaga, terdengar sayup-sayup jelas suara Aura Kasih dalam irama <em>Mari Bercinta</em>.</p>
<p>Yah, aku suka memang dengan lagu itu. Aransemen musiknya cukup membuat hati berdansa. Temanku satu asrama pasti tahu kelakuanku ketika mendengarnya. Sekedar musik dan lagu. Video-nya aku tak begitu suka, walau memang banyak pria menggandrunginya.</p>
<p>Ah, lupakan saja..</p>
<p>Tapi tidak hanya itu, ternyata. Pun terdengar jelas sayup2 lagu yang sama dari arah angin selatan, Campus Center orang biasa memanggilnya. Seingatku anak2 2009 yang kuajak ikut kajian dauroh mini sore ini banyak beralasan ikut makrab angkatan. Mungkin acara di sana itu yang mereka maksud: panggung ria lapangan Campus Center Barat.</p>
<p>Isinya? Ya itu, ajeb2 aku menyebutnya. Bernyanyi, berteriak, bersenang-senang, berjoget ria. Tidak semua mau joged, aku tahu. Tapi ya ruhnya ada di sana, membaur tak jelas siapa dari mana.</p>
<p>Sekedar kisahku menutup akhir perkuliahan di bulan suci ini, Ramadhan. Bersedih diri, kawan2-ku para mahasiswa-mahasiswi terbaik bangsa, menyambut kepergiannya dengan suka ria canda dan tawa. Mungkin tak tahu mereka kentara mana haram perkara, semua silahkan saja.</p>
<p>Aku malu. Bukan untuk mereka, tapi untuk diriku.</p>
<p><em>Sunken Court E-08, 22 Ramadhan 1430H</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryabima.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryabima.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryabima.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryabima.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryabima.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryabima.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryabima.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryabima.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryabima.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryabima.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=182&subd=aryabima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryabima.wordpress.com/2009/09/11/ajeb-ajeb-di-akhir-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b3d9d51fd37a3ae03261084f6b0acf9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zuhair</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kita Butuh Jalan Baru!</title>
		<link>http://aryabima.wordpress.com/2009/06/24/kita-butuh-jalan-baru/</link>
		<comments>http://aryabima.wordpress.com/2009/06/24/kita-butuh-jalan-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 14:27:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>زهير</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryabima.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Tak lama lagi, rakyat Indonesia akan kembali berpesta dalam demokrasi. Setelah beberapa waktu lalu diminta memilih wakil rakyat, kini rakyat diminta lagi memilih presiden bersama pasangannya secara langsung. Pesta demokrasi belum berhenti.

Seolah tak mau ketinggalan dengan calon wakil rakyat, pasangan capres dan cawapres pun umbar janji. Belum lagi waktu kampanye tiba, mereka sudah ngacir terlebih dulu dengan berbagai kampanye terselubung. Semua bilang akan membuat perubahan. Mereka tak mau dikatakan sebagai antek asing.

Akankah janji mereka benar? Soalnya, dalam sejarah perjalanan demokrasi Indonesia, janji itu hanya sekedar janji, tidak ada bukti. Rakyat tetap terpuruk. Sistem yang diterapkannya pun tak pernah berubah, padahal semua orang tahu sistem yang ada ini telah rusak.

Akankah mereka kali ini berubah? Untuk membahasnya, wartawan Media Umat Mujiyanto mewawancarai Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia Hafidz Abdurrahman beberapa waktu lalu. Berikut petikannya.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=173&subd=aryabima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tak lama lagi, rakyat Indonesia akan kembali berpesta dalam demokrasi. Setelah beberapa waktu lalu diminta memilih wakil rakyat, kini rakyat diminta lagi memilih presiden bersama pasangannya secara langsung. Pesta demokrasi belum berhenti.</p>
<p>Seolah tak mau ketinggalan dengan calon wakil rakyat, pasangan capres dan cawapres pun umbar janji. Belum lagi waktu kampanye tiba, mereka sudah ngacir terlebih dulu dengan berbagai kampanye terselubung. Semua bilang akan membuat perubahan. Mereka tak mau dikatakan sebagai antek asing.</p>
<p>Akankah janji mereka benar? Soalnya, dalam sejarah perjalanan demokrasi Indonesia, janji itu hanya sekedar janji, tidak ada bukti. Rakyat tetap terpuruk. Sistem yang diterapkannya pun tak pernah berubah, padahal semua orang tahu sistem yang ada ini telah rusak.</p>
<p>Akankah mereka kali ini berubah? Untuk membahasnya, wartawan Media Umat Mujiyanto mewawancarai Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia <strong><em>Hafidz Abdurrahman</em></strong> beberapa waktu lalu. Berikut petikannya.</p>
<p><span id="more-173"></span><strong><em>Indonesia akan menyelenggarakan pilpres setelah sebelumnya pilleg. Akankah ada perubahan di Indonesia?</em></strong></p>
<p>Perubahan mungkin saja terjadi, tetapi hanya pergantian orang atau aktornya saja, bukan sistem.</p>
<p><strong><em>Mengapa tidak akan ada perubahan?</em></strong></p>
<p>Karena, rel (jalan) yang dilalui tetap tidak pernah berubah, yaitu jalan Kapitalisme dan Sekulerisme. Apa indikasinya? Kapitalisme adalah ideologi yang meyakini pemisahan agama dari kehidupan, baik bermasyarakat maupun bernegara. Inilah yang disebut dengan Sekulerisme. Jadi, Kapitalisme dan Sekulerisme ini tidak bisa dipisahkan.</p>
<p>Paham Sekulerisme ini membolehkan agama hidup, tetapi tidak boleh mengatur kehidupan. Pendek kata, Sekulerisme ini menolak formalisasi agama. Karena, agama dianggap urusan <em>private</em> (pribadi). Padahal, ketika agama tidak boleh mengatur urusan kehidupan baik bermasyarakat maupun bernegara, maka urusan tersebut pasti diatur dengan aturan lain. Pasti, aturan itu bukan dari agama, melainkan dari otak dan hawa nafsu manusia.</p>
<p>Memang, tidak semua agama mempunyai aturan untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seperti Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, dan sebagainya. Tetapi tidak dengan Islam. Karena itulah, kami menawarkan Islam sebagai sistem untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, menggantikan Kapitalisme-Sekulerisme. Sebab, sistem inilah yang kompatibel (sesuai, red.) dengan keyakinan mayoritas rakyat di negeri ini. Jika sistem ini diambil dan diterapkan, maka dalam waktu singkat, rakyat dan negeri Muslim terbesar ini akan bangkit dan menjadi adidaya baru dunia.</p>
<p><strong><em>Apakah tiadanya perubahan ini disengaja?</em></strong></p>
<p>Benar. Ini bisa kita buktikan setidaknya dari aspek: <em>Pertama</em>, para pelaku politik dan pengambil kebijakan itu sudah tahu bahwa ada sistem lain yang lebih baik, yaitu sistem Islam, dan sistem ini kompatibel dengan keyakinan mayoritas rakyat di negeri ini, tetapi tetap saja mereka tidak mau mengambil dan menerapkannya.</p>
<p><em>Kedua</em>, keinginan rakyat agar sistem ini diterapkan semakin meningkat, terbukti dari berbagai survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga dengan lintas agama dan ideologi, semuanya menunukkan hasil yang hampir sama. Tidak kurang dari 80 persen rakyat Indonesia mendukung diterapkannya syariah. Tapi, mengapa para pelaku politik dan pengambil kebijakan itu tetap tidak hirau dengan aspirasi mayoritas rakyat?</p>
<p>Dari dua aspek ini, sebenarnya sudah jelas bahwa tiadanya perubahan itu karena disengaja. Namun, supaya tidak tampak, kesengajaan itu pun dikemas sedemikian rupa dengan menggunakan berbagai dalih: <em>pertama</em>, fakta perolehan suara partai Islam yang kalah dibanding dengan partai Sekuler, yang kemudian diklaim seolah-olah partai Islam dengan jualan syariahnya tidak laku.</p>
<p><em>Kedua</em>, gerakan yang dilakukan oleh kelompok Sekuler melalui berbagai LSM yang dibayar oleh asing untuk menyuarakan penolakan pada syariah, baik secara langsung maupun dibungkus dengan hasil penelitian, dan sebagainya. <em>Ketiga</em>, rezim media yang menguasai opini, memang sengaja diarahkan dan dibentuk untuk melanggengkan sistem Kapitalisme-Sekulerisme itu.</p>
<p><strong><em>Siapa yang berkepentingan terhadap status quo ini?</em></strong></p>
<p>Ada dua: <em>pertama</em>, orang Indonesia yang diuntungkan dengan status quo tersebut. Mereka inilah yang selama ini menikmati segala fasilitas dan jaminan hidup dengan status quo-nya. Mereka ini terdiri dari penguasa, organisasi massa, LSM, media, dan sebagainya.</p>
<p><em>Kedua</em>, orang asing, tepatnya penjajah yang ingin tetap mempertahankan cengkeramannya di negeri ini. Dulu Belanda, tetapi setelah perang kemerdekaan, posisi itu digantikan oleh AS. Posisi AS sejak dekadi 50-an sampai sekarang tidak berubah. Artinya, AS masih tetap mencengkeram Indonesia. Meski, dalam hal ini, AS tidak sendiri. Di sana juga ada Inggris, Uni Eropa, dan lain-lain. Melalui siapa? Ya, melalui kelompok pertama tadi.</p>
<p>Buktinya apa? Munculnya UU Migas, UU SDA, UU Penanaman Modal, sampai privatisasi BUMN, tambang gas, minyak, batubara, privatisasi pendidikan, dan penolakan UU Pornografi-Pornoaksi. Jadi, kedua kelompok inilah yang sebenarnya berkepentingan mempertahankan status quo negeri ini.</p>
<p>Hanya saja, untuk menutupi belang mereka, mereka selalu menyerang orang dan kelompok lain sebagai orang atau kelompok yang membahayakan Indonesia. Padahal, yang sudah terbukti dan jelas-jelas membahayakan, bahkan merusak dan menghancurkan Indonesia, ya mereka itu.</p>
<p><strong><em>Artinya, Indonesia ini belum mandiri, atau dengan kata lain belum merdeka?</em></strong></p>
<p>Iya. Meski secara fisik tampak sudah, tetapi secara non-fisik belum. Buktinya, intervensi politik oleh negara-negara penjajah sangat besar, sebagaimana dalam kasus Ahmadiyah. Belum lagi intervensi ekonomi, seperti proyek-proyek pembangunan yang dibiayai oleh Bank Dunia, IMF, atau ADB. Termasuk perpanjangan kontrak karya yang sangat merugikan Indonesia, seperti dalam kasus Blok Cepu dan Natuna.</p>
<p><strong><em>Bisakah kita melakukan perubahan terhadap kondisi yang ada sekarang?</em></strong></p>
<p>Bisa. Dalam politik tidak ada yang tidak bisa. Karena politik adalah <em>fann al-mumkinat</em>, seni kemungkinan. Semuanya serba mungkin.</p>
<p><strong><em>Bagaimana syarat sebuah perubahan?</em></strong></p>
<p>Perubahan itu selalu membutuhkan dua hal, yaitu gagasan dan aktor. Gagasan dalam konteks perubahan itu &#8212; dalam bahasa Hizbut Tahrir &#8212; ada dua, yaitu <em>fikrah</em> dan <em>thariqah</em>, atau ide dan metode operasional. Di dalam ide itu ada akidah. Misalnya, apakah akidahnya boleh akidah mazhab, seperti Ahlusunnah, Muktazilah, Jabariyah, Syiah, atau cukup akidah Islam saja?</p>
<p>Ini sudah dirumuskan, dan tentu kembali kepada visi dan misinya, yaitu ingin mewujudkan tatanan masyarakat seperti apa? Apakah masyakarat Islam &#8212; titik &#8212; sehingga keberadaan mazhab ditolerir, atau masyarakat ala mazhab tertentu, sehingga posisi mazhab lain bisa terancam? Demikian juga sistem politik, ekonomi, sosial, pendidikan, peradilan, politik dalam dan luar negerinya juga menjadi bagian dari ide ini.</p>
<p>Tetapi, itu saja belum cukup, karena ide-ide tersebut belum bisa diterapkan, disebarkan, dan dipertahankan jika tidak ada metode operasionalnya. Maka, adanya metode operasional (atau, <em>thariqah</em>) tersebut mutlak diperlukan.</p>
<p>Dalam bahasa saya, perubahan itu membutuhkan <em>master plan</em>, atau rancangan induk tentang sistem politik, ekonomi, sosial, pendidikan, peradilan, politik dalam dan luar negeri, agar jelas arah dan langkah perubahan yang hendak dibangun dan diwujudkan. Tapi ini belum cukup. Karenanya, harus ada <em>road map</em> (peta jalan) yang menggariskan langkah-langkah ke sana. Dengan kata lain, perubahan itu membutuhkan <em>master plan</em> dan <em>road map</em></p>
<p>Namun, <em>master plan</em> dan <em>road map</em> itu tidak bisa jalan sendiri kalau tidak ada aktor. Maka, adanya aktor juga menjadi faktor penentu perubahan. Aktor bisa pribadi, yang kemudian membentuk kelompok atau organisasi, dan secara simultan dan konsisten pribadi dan organisasi tersebut berjuang mewujudkan <em>master plan</em>, melalui <em>road map</em> yang sudah digariskan.</p>
<p><strong><em>Baru-baru ini HTI mengeluarkan Manifesto. Adakah ini terkait dengan proses perubahan?</em></strong></p>
<p>Iya. Sebagaimana yang saya pernah sampaikan, bahwa manifesto ini didedikasikan oleh Hizbut Tahrir untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat Kapitalisme-Sekulerisme. Untuk bangkit dan merdeka dari segala bentuk penjajahan, sehingga Indonesia dengan syariah dan Khilafah akan menjadi adidaya baru dunia, menggantikan AS, Inggris, Uni Eropa, Rusia, dan China. Dengannya, Indonesia bukan saja mau secara fisik, tetapi juga mendapatkan ridha Allah, serta keberkatan dari langit dan bumi.</p>
<p><strong><em>Apa saja isi Manifesto tersebut?</em></strong></p>
<p>Manifesto ini merupakan pernyataan sikap Hizbut Tahrir yang terkait dengan sejumlah topik, mulai dari pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, sistem peradilan, politik dalam dan luar negeri. Semuanya merupakan hukum-hukum Islam yang digali dari al-Quran, as-Sunnah, Ijma&#8217; Sahabat, dan Qiyas, yang diadopsi di dalam buku-buku pembinaan Hizbut Tahrir.</p>
<p><strong><em>Apakah Manifesto ini aplikatif, atau sekedar wacana?</em></strong></p>
<p>Lazimnya hukum Islam, tidak ada hukum Islam yang tidak aplikatif, karena hukum Islam ini diturunkan oleh Allah untuk mengatur seluruh problem kehidupan manusia. Tetapi, apakah ini sekedar wacana atau tidak? Kembali kepada, apakah diterapkan atau tidak. Kalau hanya menjadi bahan diskusi, ya masih wacana. Tetapi kalau sudah diterapkan, tentu bukan wacana lagi.</p>
<p><strong><em>Bagaimana Manifesto itu bisa dilaksanakan?</em></strong></p>
<p>Lazimnya gagasan atau tawaran gagasan, bisa dan tidaknya dilaksanakan tergantung pada dukungan politik terhadap gagasan tersebut. Sebab, bisa dan tidaknya dilaksanakan, tergantung apakah ada <em>political will</em> atau tidak untuk melaksanakannya. Dari siapa? <em>Pertama</em>, Hizbut Tahrir sendiri jelas, mempunyai <em>political will</em> yang kuat untuk terlaksananya manifesto tersebut. <em>Kedua</em>, rakyat. Sebenarnya, <em>political will</em> rakyat ke arah sana juga cukup kuat. Ini dibuktikan dari hasil sejumlah survei tentang syariah. Namun, sayangnya aspirasi mereka ini tidak tertampung dan tersalurkan, karena tidak ada satu partai politik peserta pemilu yang menyuarakan itu.</p>
<p><em>Ketiga</em>, aktor politik dan pengambil kebijakan. Secara umum, belum ada <em>political will</em> ke arah sana. Pada titik inilah, justru <em>political will</em> tersebut sangat lemah, karena mereka cenderung pragmatis. Karena itu, Hizbut Tahrir tidak henti-hentinya terus berdakwah, menawarkan gagasannya kepada mereka.</p>
<p><strong><em>Bagaimana tanggapan Anda terhadap orang-orang Islam yang mencibir jalan baru tersebut?</em></strong></p>
<p>Karena jalan baru yang ditawarkan oleh Hizbut Tahrir ini jelas merupakan ajaran Islam, bukan yang lain, maka mencibir gagasan ini sebenarnya sama dengan mencibir Islam. Ini tidak boleh. Hanya saja, tetap harus dilihat, apakah mereka mencibir karena tidak paham, salah paham, atau pahamnya yang salah? Bagi yang tidak paham, harus dijelaskan. Yang salah paham harus diluruskan. Adapun yang pahamnya salah, harus dibetulkan.</p>
<p><strong><em>Apa yang harus dilakukan umat sekarang agar Islam itu tegak?</em></strong></p>
<p>Berjuang sungguh-sungguh dan terukur. Sebab, kalau sungguh-sungguh tidak terukur, sudah banyak, tetapi kan tidak pernah berhasil. Misalnya, apakah mereka sudah tahu seperti apa <em>master plan</em> perjuangan yang hendak mereka wujudkan? Kalau belum tahu, harus segera mencari tahu, dan setelah tahu harus diperjuangkan. Setelah itu, bagaimana <em>road map</em>-nya?</p>
<p>Dari sini, satu per satu proses tersebut harus dilakukan dengan sungguh-sungguh hingga <em>master plan</em> tersebut benar-benar terwujud. Termasuk, apakah mereka berjuang sendiri-sendiri, atau bersama organisasi? Kalau harus bersama organisasi, maka organisasinya seperti apa?</p>
<p>Pendek kata, yang harus dilakukan oleh umat saat ini adalah bergabung dengan orang-orang ikhlas yang berjuang dengan sungguh-sungguh, jujur, dan konsisten untuk tujuan tersebut.[]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryabima.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryabima.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryabima.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryabima.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryabima.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryabima.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryabima.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryabima.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryabima.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryabima.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=173&subd=aryabima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryabima.wordpress.com/2009/06/24/kita-butuh-jalan-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b3d9d51fd37a3ae03261084f6b0acf9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zuhair</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyoal Perubahan</title>
		<link>http://aryabima.wordpress.com/2009/06/20/menyoal-perubahan/</link>
		<comments>http://aryabima.wordpress.com/2009/06/20/menyoal-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 13:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>زهير</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryabima.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Ketika seseorang sadar akan adanya suatu hal yang buruk dari diri maupun lingkungan di sekitarnya, pasti terlintas di benaknya sebuah kata: perubahan. Semisal, seorang mahasiswa yang senantiasa mendapat indeks prestasi di bawah angka 2, ia pun akan berpikir bagaimana bisa mengubah itu –terlepas dari solusi/cara apa yang akan ia lakukan untuknya. Dalam konteks ini, perubahan diartikan sebagai suatu bentuk pengubahan kondisi menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Dari sana, dapat ditemukan pertanyaan-pertanyaan berikutnya: apa-apa saja yang dikatakan sebagai sesuatu yang terkategori "buruk" sehingga ia harus mengubahnya, serta seperti apa perubahan yang akan dilakukan. Bisa saja, seseorang menganggap apa yang dilakukan kawannya adalah buruk, sedangkan si kawan tersebut tidaklah menganggap demikian – pada akhirnya tidak akan menjadikan perubahan sebagai suatu keharusan bagi dirinya. Dengan kata lain, perlu adanya apa yang menjadi patokan perubahan itu sendiri.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=170&subd=aryabima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ketika seseorang sadar akan adanya suatu hal yang buruk dari diri maupun lingkungan di sekitarnya, pasti terlintas di benaknya sebuah kata: <em><strong>perubahan</strong></em>. Semisal, seorang mahasiswa yang senantiasa mendapat indeks prestasi di bawah angka 2, ia pun akan berpikir bagaimana bisa mengubah itu –terlepas dari solusi/cara apa yang akan ia lakukan untuknya. Dalam konteks ini, perubahan diartikan sebagai suatu bentuk pengubahan kondisi menjadi lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p>Dari sana, dapat ditemukan pertanyaan-pertanyaan berikutnya: apa-apa saja yang dikatakan sebagai sesuatu yang terkategori &#8220;buruk&#8221; sehingga ia harus mengubahnya, serta seperti apa perubahan yang akan dilakukan. Bisa saja, seseorang menganggap apa yang dilakukan kawannya adalah buruk, sedangkan si kawan tersebut tidaklah menganggap demikian – pada akhirnya tidak akan menjadikan perubahan sebagai suatu keharusan bagi dirinya. Dengan kata lain, perlu adanya apa yang menjadi <strong>patokan perubahan</strong> itu sendiri.<br />
<span id="more-170"></span><br />
<h3>Perubahan berbeda dengan perbaikan</h3>
<p>Perbaikan bukanlah perubahan. Perbaikan hanyalah suatu usaha tambal sulam yang dilakukan guna memperbaiki sesuatu, yaitu menjadikannya kembali kepada kondisi ideal. Misal, bila suatu saat motor Anda rusak, Anda paling tidak bisa melakukan dua hal: memperbaikinya atau mengubahnya. Bagaimana bila motor Anda memang sudah cacat dari pabriknya? Tentu memperbaikinya tidak akan menyelesaikan masalah Anda. Anda harus menggantinya – mengubahnya – baik untuk komponen-komponen tertentu ataupun motornya sekalian bila memang motor tersebut cacat secara keseluruhan.</p>
<p>Pun demikian halnya si mahasiswa di atas, yang selalu mendapatkan IP di bawah angka 2 dalam keberalanan perkuliahannya. Ia bisa melakukan dua hal: memperbaiki ujian-ujiannya, atau mengubah cara belajarnya. Bila ia hanya melakukan perbaikan terhadap ujian-ujian yang telah ia jalani dan tidak berusaha untuk mengubah cara belajarnya, dapat dipastikan kelak ia pun akan mendapatkan hasil yang sama untuk ujian-ujian pada semester-semester selanjutnya. Maka, perubahan adalah memang suatu hal yang meniscayakan totalitas terhadap dirinya.</p>
<h3>Islam menuntut perubahan mendasar dan menyeluruh</h3>
<p>Dalam al-Quran Allah mengatakan, &#8220;<em>Masuklah ke dalam Islam secara <strong>kaaffah</strong>,</em>&#8221; yaitu tidak lain adalah secara <strong>mendasar</strong> dan <strong>menyeluruh</strong>. Ketika ada seorang <em>kaafir</em> hendak menjadi muslim, maka menjadi suatu keharusan baginya untuk meninggalkan segala perbuatan dan kebiasaan <em>jahiliyah</em> yang sebelumnya biasa ia lakukan, untuk selanjutnya menjadikan Islam sebagai satu-satunya patokan serta dasar dalam melakukan segala aktivitasnya. Adalah menyalahi syariat Islam itu sendiri bila kemudian ia tetap melakukan perbuatan <em>jahiliyah</em> tersebut, baik secara sengaja maupun tidak.</p>
<p>Begitu juga halnya ketika kita berbicara tentang perubahan sistem dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Bila kita telah menyadari akan kerusakan suatu masyarakat akibat kecacatan yang ada pada sistem yang diterapkan di tengah-tengahnya, maka diperlukan suatu perubahan yang menyeluruh terhadap sistem tersebut, yaitu meninggalkannya secara keseluruhan untuk kemudian menerapkan sistem yang baru sebagai penggantinya. Tentu saja, pada awal pembicaraan ini kita harus menyepakati bahwasannya memang persoalan mendasar adalah pada sistem yang diterapkan, bukan sekedar individu-individu yang memegang kepemimpinannya.</p>
<p>Demikianlah, maka yang selanjutnya penting untuk dipersoalkan adalah apa yang kemudian akan kita jadikan patokan bagi perubahan tersebut.[]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryabima.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryabima.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryabima.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryabima.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryabima.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryabima.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryabima.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryabima.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryabima.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryabima.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=170&subd=aryabima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryabima.wordpress.com/2009/06/20/menyoal-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b3d9d51fd37a3ae03261084f6b0acf9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zuhair</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Demokrasi dan Baju Baru Sang Raja</title>
		<link>http://aryabima.wordpress.com/2009/06/03/demokrasi-dan-baju-baru-sang-raja/</link>
		<comments>http://aryabima.wordpress.com/2009/06/03/demokrasi-dan-baju-baru-sang-raja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 12:44:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>زهير</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryabima.wordpress.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah hiduplah seorang Raja. Pada suatu hari, Raja itu ingin memiliki baju baru untuk dia pakai dalam pawai rutin di tengah kota yang biasa dia lakukan. Raja pun menyuruh ajudannya untuk memanggil penjahit yang paling hebat.

Singkat cerita datanglah seorang penipu yang mengaku penjahit hebat dan akan menjahitkan baju yang sangat luar biasa indah dan tiada duanya untuk sang Raja. Dia pun berlagak mengukur badan sang Raja, mengukur tingginya, lingkar perutnya, lebar bahunya, dan lain-lain. Setelah itu dia pun mohon diri dan menjanjukan baju itu akan siap esok lusa.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=166&subd=aryabima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Alkisah hiduplah seorang Raja. Pada suatu hari, Raja itu ingin memiliki baju baru untuk dia pakai dalam pawai rutin di tengah kota yang biasa dia lakukan. Raja pun menyuruh ajudannya untuk memanggil penjahit yang paling hebat.</p>
<p>Singkat cerita datanglah seorang penipu yang mengaku penjahit hebat dan akan menjahitkan baju yang sangat luar biasa indah dan tiada duanya untuk sang Raja. Dia pun berlagak mengukur badan sang Raja, mengukur tingginya, lingkar perutnya, lebar bahunya, dan lain-lain. Setelah itu dia pun mohon diri dan menjanjukan baju itu akan siap esok lusa.</p>
<p><span id="more-166"></span>Hari yang ditunggu pun tiba. Raja tidak sabar untuk melihat dan mencoba baju barunya. Namun alangkah kecewanya ketika penjahit itu datang dan tidak terlihat membawa apapun. &#8220;<em>Wahai penjahit, mana baju baru yang kau janjikan untukku?</em>&#8221; tanya Raja gusar. Penjahit itu pun buru-buru berpura-pura mengeluarkan sesuatu, &#8220;<em>Mohon maaf Paduka, inilah baju terbaik yang saya kerjakan untuk Paduka.</em>&#8220;</p>
<p>Dia pun mengulurkan kedua tangannya seolah-olah sedang mempersembahkan sesuatu. Raja mengernyitkan keningnya karena dia merasa tidak melihat apa-apa, begitu pula para ajudan yang mendampingi Raja. Penjahit gadungan itu pun melanjutkan, &#8220;<em>Tidakkah Paduka bisa melihat keindahannya? Baju ini teramat istimewa sebab hanya orang pintar saja yang dapat melihatnya!</em>&#8220;</p>
<p>Raja yang langsung termakan bualan penipu itu merasa sangat malu karena ia benar-benar tidak melihat baju yang dimaksud. Raja pun berpikir betapa memalukannya bila ia ketahuan tak dapat melihat baju itu. Dengan serta merta Raja pun menyahut, &#8220;<em>Oh, betul sekali, betapa indahnya baju yang sudah kau buat ini, aku sungguh-sungguh menyukainya. Bagaimana dengan kalian?</em>&#8221; Raja meminta persetujuan para ajudan.</p>
<p>Para ajudan yang rupanya sama dengan Raja segera menjawab, &#8220;<em>Oh, benar sekali Paduka, baju itu memang sangat indah!</em>&#8221; Mereka kemudian berlomba-lomba memuji baju bualan itu, &#8220;<em>Warnanya sungguh indah, tidak terlalu mencolok namun sangat berkarakter..</em>&#8221; Seseorang lagi menimpali, &#8220;<em>Lihat jahitannya, sangat rapi dan solid!</em>&#8221; Seorang lagi tidak mau kalah, &#8220;<em>Modelnya sangat orisinil dan berwibawa. Raja akan terlihat sangat gagah memakainya!</em>&#8220;</p>
<p>Begitulah, kemudian ketika dikabari mengenai baju baru Sang Raja, seisi kerajaan pun berlomba-lomba berkomentar dan memberikan pujian mengenai baju itu, tidak ada yang berani mengakui tidak bisa melihat baju itu karena takut disangka bodoh.</p>
<p style="text-align:center;">*   *   *</p>
<p>Cerita di atas mungkin sudah akrab di telinga kita. Dongeng masa kecil ini terlintas begitu saja dalam ingatan ketika membaca satu kata: <em><strong>Demokrasi</strong></em>. Apa hubungannya demokrasi dengan dongeng tadi?</p>
<p>Demokrasi tidak ada bedanya dengan baju baru Sang Raja. Demokrasi, seperti halnya baju baru Raja, adalah <strong>omong kosong</strong>. Barangkali menyadari &#8216;<em>keberadaan</em>&#8216; sesuatu lebih mudah ketimbang menyadari &#8216;<em>ketidakberadaan</em>&#8216; sesuatu?</p>
<p>Demokrasi sebenarnya <strong>tidak ada</strong> dan <strong>tidak pernah ada</strong>. Kalau begitu, kenapa sesuatu yang tidak ada, dan tidak pernah ada, dikira ada? Jawabannya sama juga dengan baju baru Sang Raja: dia <strong>diopinikan</strong> dan <strong>dibicarakan</strong> oleh <em>semua orang</em>. Raja berkata ada, para ajudan membetulkan, seisi kerajaan mengakuinya. Tinggallah rakyat luas.</p>
<p>Apa yang terjadi ketika Raja melakukan pawai dengan baju barunya itu? Seluruh rakyat sudah tidak sabar, penasaran dengan baju baru Sang Raja yang katanya hanya akan nampak di mata orang-orang yang pintar saja. Akan tetapi, betapa kagetnya rakyat ketika melihat Raja yang mereka bangga-banggakan itu diarak keliling kota dan melambai-lambaikan tangannya pada rakyat, tersenyum lebar penuh percaya diri dalam keadaan telanjang bulat!</p>
<p>Rakyat pun terdiam terbingung-bingung, semuanya saling pandang. Tidak ada satu pun yang berani mengakui apa yang sebenarnya dilihatnya. Kemudian satu demi satu mereka mulai berkomentar, &#8220;<em>Ooohh.. betapa indahnya baju baru Sang Raja!</em>&#8221; satu orang mengawali. &#8220;<em>Benar! Ooh Tuhan, seandainya aku bisa memiliki baju seperti itu!</em>&#8221; yang lain menyahut. &#8220;<em>Bodoh! Hanya Raja yang pantas memakai baju kebesaran seperti itu!</em>&#8221; Sahut-sahutan pun mulai terjadi, dan pada akhirnya semua orang mengakui melihat baju baru Sang Raja.</p>
<p>Begitu pulalah demokrasi, <strong>dia tidak pernah berhenti dibicarakan</strong>. Semua berlomba-lomba memakai slogan ini. Jika ada himbauan, maka kalimatnya adalah, &#8220;<em>Mari kita pertahankan demokrasi!</em>&#8221; Atau, &#8220;<em>Jangan biarkan demokrasi ini rusak karena ulah sekelompok orang!</em>&#8221; Jika sebuah lembaga mencanangkan visi dan misi, yang tertulis adalah, &#8220;<em>Membangun masyarakat demokratis makmur sejahtera.</em>&#8221; Jika ada seorang tokoh, maka dia dijuluki sebagai &#8220;<em>Sang pembela demokrasi</em>&#8220;, atau &#8220;<em>Sang demokrat sejati</em>&#8220;.</p>
<p>Jika ada pemikiran, maka pemikiran itu adalah kata sifat dari demokrasi seperti &#8220;<em>Demokrasi Terpimpin</em>&#8220;, &#8220;<em>Demokrasi Liberal</em>&#8220;, &#8220;<em>Demokrasi with God</em>&#8220;, atau &#8220;<em>Theo-Demokrasi</em>&#8220;, dan lain-lain. Jika membentuk partai, maka namanya adalah &#8220;<em>Partai Demokrasi Anu</em>&#8220;. &#8220;<em>Partai Demokrasi itu</em>&#8220;, &#8220;<em>Partai Pokoknya Demokrasi</em>&#8220;, &#8220;<em>Partai yang Penting Demokrasi</em>&#8220;, &#8220;<em>Partai Insya Allah Demokrasi</em>&#8220;, dan lain-lain. Kalau ada penghargaan, maka itu adalah <em>medali demokrasi</em>. Di sana demokrasi, di sini demokrasi, demokrasi di mana-mana.</p>
<p>Walhasil, <strong>tidak seorangpun sadar</strong> bahwa <strong>demokrasi itu sebenarnya tidak ada</strong>. Mereka tidak akan bisa menunjukkan mana demokrasi? Mereka tidak mungkin bisa menyebutkan negara mana yang paling demokratis? <em>What a shame!</em> Seperti halnya Sang Raja yang telanjang bulat keliling kota, betapa memalukannya.</p>
<p>Kalau kita mau sadari, maka yang terjadi adalah <em><strong>korporatokrasi</strong></em>, bukannya demokrasi. Dan kalau dikatakan yang sebenarnya ini, maka dijamin tidak akan ada seorangpun yang mendukungnya, <em>kecuali</em>, ya para pemilik korporat-korporat besar itu. Dan inilah yang membuat sebuah bangsa terpuruk sedemikian rupa, karena rakyatnya terperdaya oleh sistem politik ilusi.</p>
<p>Akan tetapi, semoga hal ini tidak lama. Kalau kita selesaikan dongeng baju baru Sang Raja, maka pada akhirnya ada seorang anak kecil yang <em>innocent</em>, lugu dan jujur, meneriakkan, &#8220;<em>Raja <strong>telanjang</strong>!</em>&#8221; Raja yang mendengarnya pun kaget dan terdiam. Arak-arakan pawai berhenti. Semua rakyat ikut terdiam menelan ludah. Ibunya anak itu pun ketakutan setengah mati dan mencoba membungkam mulut anaknya. Akan tetapi si anak tetap bersuara, &#8220;<em>Lihatlah Ibu, Raja tidak memakai apa-apa.. Lucu ya?</em>&#8220;</p>
<p>Raja pun mulai berkeringat dingin. Rakyat saling celingukan dan mulai bergumam-gumam kecil tidak jelas. Raja semakin berkeringat dan melirik para ajudannya, akan tetapi para ajudannya tidak berani menatap Sang Raja.. dan.. nah, sudahlah, tulisan ini tidak perlu dilanjutkan sebelum kita berfantasi yang macam-macam. Tentu kita semua sudah hafal dengan ending cerita ini.</p>
<p>Yang penting sekarang, mari kita melihat realita saat ini. Beranikah kita menjadi jujur seperti anak kecil itu? <strong>Beranikah mengatakan yang sebenarnya tentang demokrasi</strong>? Kita tentu kesal ketika ada tokoh Islam yang tiap kali berpidato seakan &#8216;<em>gatal</em>&#8216; kalau tidak mengucapkan sepatah kata demokrasi. Sepertinya kalau tidak mengucapkan demokrasi ada yang kurang. Kurang <em>Afdhol</em>? <em>Masya Allah</em>..</p>
<p>Kalau kita tidak berani <strong>berterus-terang</strong> bahwa demokrasi itu <strong>tidak ada</strong>, maka lebih baik <strong>diam saja</strong>! Rasul saw. bersabda, &#8220;<em>Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam,</em>&#8221; (<strong>HR. Abu Hurairah</strong>). Akan lebih baik kalau kita tidak usah berkata apapun tentang demokrasi.</p>
<p>Mari hapus kata demokrasi dalam otak kita. Coret kata demokrasi dalam naskah pidato kita.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam bis-showab.</em></p>
<p><em>Sumber: Minimagz &#8220;<strong>Badai Otak</strong>&#8220;, edisi 11</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryabima.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryabima.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryabima.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryabima.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryabima.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryabima.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryabima.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryabima.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryabima.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryabima.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=166&subd=aryabima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryabima.wordpress.com/2009/06/03/demokrasi-dan-baju-baru-sang-raja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b3d9d51fd37a3ae03261084f6b0acf9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zuhair</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Kebenaran Bertuhan</title>
		<link>http://aryabima.wordpress.com/2009/03/14/mencari-kebenaran-bertuhan/</link>
		<comments>http://aryabima.wordpress.com/2009/03/14/mencari-kebenaran-bertuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 14:57:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>زهير</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryabima.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Pada dasarnya semua yang dapat kita saksikan dalam kehidupan dan alam semesta ini adalah <strong>makhluk</strong>, sekedar ciptaan. Menjadi makhluk, artinya bahwa semua yang kita lihat ini tidaklah memiliki daya dan kekuatan yang absolut – semua memiliki <strong>keterbatasan </strong>dan <strong>kebergantungan </strong>dengan satu dan yang lainnya.

Ambil contoh sederhana, mengapa air dikatakan memiliki kondisi <em>triple point</em> bila berada dalam <strong>tekanan tertentu</strong> pada suhu <strong>273,16K</strong>? Adakah ia bisa mengubahnya? Atau, bisakah kita mengubahnya?<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=163&subd=aryabima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pada dasarnya semua yang dapat kita saksikan dalam kehidupan dan alam semesta ini adalah <strong>makhluk</strong>, sekedar ciptaan. Menjadi makhluk, artinya bahwa semua yang kita lihat ini tidaklah memiliki daya dan kekuatan yang absolut – semua memiliki <strong>keterbatasan </strong>dan <strong>kebergantungan </strong>dengan satu dan yang lainnya.</p>
<p>Ambil contoh sederhana, mengapa air dikatakan memiliki kondisi <em>triple point</em> bila berada dalam <strong>tekanan tertentu</strong> pada suhu <strong>273,16K</strong>? Adakah ia bisa mengubahnya? Atau, bisakah kita mengubahnya?</p>
<p>Melihat fakta tersebut, sejatinya manusia dengan akalnya kemudian dapat berpikir, bahwasannya ada &#8220;suatu kekuatan&#8221; di balik segala keterbatasan dan kebergantungan yang ada di kehidupan dan alam semesta ini. Kekuatan tersebut adalah <strong>zat</strong> yang <strong>serba Maha</strong>, tidak bergantung pada siapa pun, dan mempunyai <strong>kendali penuh</strong> akan ciptaan-ciptaan yang ada.</p>
<p>Nyatanya, secara naluriah memang pada diri manusia terdapat <em>gharizah</em> (naluri) untuk menyucikan sesuatu yang dianggap memiliki &#8220;kekuatan&#8221; itu. Penyembahan matahari, pohon, dewa-dewi, bahkan sampai pada pengkultusan sesama manusia, semua berangkat dari naluri yang memang mendorong kepada hal tersebut.</p>
<p>Pertanyaannya kemudian – dari semua bentuk persembahan dan penyembahan yang dilakukan manusia – manakah yang memang <strong>benar</strong> dan <strong>memiliki kebenaran</strong> akan konsep ketuhanan dan kebertuhanan yang ia lakukan? Tidak mungkin semua benar, kan? Pasti <strong>hanya ada satu</strong> yang benar-benar merupakan sebuah kebenaran.</p>
<p>Dari sanalah, selanjutnya <strong>diperlukan</strong> suatu bimbingan wahyu – yang langsung dari &#8220;tuhan&#8221; – untuk dapat mengetahui tentang Tuhan itu sendiri, serta bagaimana tata cara dan aturan peribadatan pada-Nya. Akal manusia hanya mampu mencapai dan mencari <strong>eksistensi tuhan</strong>, selebihnya ia tidak akan mampu untuk menjangkaunya. Kita tidak akan tahu bentuk tubuh, warna, sifat, atau bahkan zat tuhan, kecuali Tuhan itu sendirilah yang memberitahukannya, karena memang tidak ada satu pun fakta yang bisa kita indera mengenai perkara tersebut.</p>
<p>Lalu, yang manakah yang benar? <em>Well</em>, kami yakin, bahwa satu-satunya wahyu yang benar-benar murni perkataan Tuhan adalah <strong><em>Al-Quran</em></strong>. Maka, kami pun yakin bahwa <strong>segala sesuatu</strong> yang tercantum dalam Al-Quran, <strong>itulah kebenaran</strong>.</p>
<p>Apakah Anda juga meyakininya?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryabima.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryabima.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryabima.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryabima.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryabima.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryabima.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryabima.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryabima.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryabima.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryabima.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryabima.wordpress.com&blog=501894&post=163&subd=aryabima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryabima.wordpress.com/2009/03/14/mencari-kebenaran-bertuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b3d9d51fd37a3ae03261084f6b0acf9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zuhair</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>